HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN COTTON BUD DENGAN SERUMEN OBSTURAN

Latar Belakang :  Sebagian besar masyarakat Indonesia membersihkan telinga menggunakan cotton bud. Penggunaan benda asing pada liang telinga dapat mengganggu mekanisme self-cleaning berupa migrasi epithelial di liang telinga. Beberapa penelitan menyatakan penggunaan cotton bud berhubungan dengan kej...

Full description

Saved in:
Bibliographic Details
Main Authors: Pivi Money Asri, Zulfikar Naftali, Dwi Marliyawati
Format: Article
Language:English
Published: Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro 2018-05-01
Series:Jurnal Kedokteran Diponegoro
Subjects:
Online Access:https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico/article/view/20760
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
Description
Summary:Latar Belakang :  Sebagian besar masyarakat Indonesia membersihkan telinga menggunakan cotton bud. Penggunaan benda asing pada liang telinga dapat mengganggu mekanisme self-cleaning berupa migrasi epithelial di liang telinga. Beberapa penelitan menyatakan penggunaan cotton bud berhubungan dengan kejadian serumen obsturan, namun penelitian-penelitian sebelumnya masih inkonsisten. Tujuan : Membuktikan hubungan kedalaman, frekuensi dan durasi penggunaan cotton bud dengan serumen obsturan. Metode : Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Penelitian ini melibatkan 69  sampel dewasa muda mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Data dikumpulkan dengan meggunakan kuisioner dan pemeriksaan fisik dengan otoscope. Analisis inferensial  menggunakan uji Fisher’s exact. Uji multivariat menggunakan uji regresi logistik untuk mencari variabel dominan. Hasil : Analisis data menunjukan 14.5% sampel menderita serumen obsturan pada telinga kanan dan 8.7% sampel menderita serumen obsturan pada telinga kiri. Berdasarkan uji statistik didapatkan hubungan bermakna kedalaman penggunaan cotton bud  dengan serumen obsturan pada telinga kanan (p=0,012) dan telinga kiri (p=0,037). Terdapat hubungan bermakna frekuensi penggunaan cotton bud dengan serumen obsturan pada telinga kanan (p=0,001), namun tidak pada telinga kiri. Tidak terdapat hubungan bermakna durasi penggunaan cotton bud dengan serumen obsturan pada telinga kanan dan telinga kiri. Kesimpulan : Terdapat hubungan bermakna kedalaman dan frekuensi penggunaan cotton bud dengan serumen obsturan pada telinga kanan. Pada telinga kiri hanya variabel kedalaman yang memiliki hubungan bermakna dengan serumen obsturan.
ISSN:2540-8844